Teori Kontrol Sosial
Hellow guys welcome to my blog, nah di
blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang kontrol sosial. Langsung
aja ya kita bahas check it out.....
Teori control social merupakan suatu
teori tentang penyimpangan yang disebabkan oleh kekosongan control atau
pengendalian social. Teori ini dibangun atas pandangan yang mana pada dasarnya
manusia memiliki kecenderungan untuk tidak patuh pada hukum serta memiliki pula
dorongan untuk melawan hukum. Oleh sebab itu didalam teori ini menilai bahwa
perilaku menyimpang merupakan konsekuensi logis dari kegagalan dari seseorang
untuk menaati hukum yang ada.
Teori kontrol sosial membahas isu-isu
tentang bagaimana masyarakat memelihara atau menambahkan kontrol sosial dan
cara memperoleh konformitas atau kegagalan meraihnya dalam bentuk penyimpangan
(Efrank E. Hagan, 2013: 236)
Travis HIrchi yang merupakan pelopor
dari teori ini mengatakan bahwa “Perilaku criminal merupakan kegagalan
kelompok-kelompok social konvensional seperti; keluarga, sekolah, kawan sebaya
untuk mengikat atau terikat dengan individu”. (Yesmil Anwar Adang, 2013:102).
Landasan
berpikir teori ini adalah tidak melihat individu sebagai orang yang secara
intriksik patuh pada hukum, namun menganut segi pandangan antitesis di mana
orang harus belajar untuk tidak melakukan tindak pidana. Mengingat bahwa kita
semua dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk melanggar peraturan-peraturan
di dalam masyarakat, delinkuen di pandang oleh para teoretisi kontrol sosial sebagai
konsekuensi logis kegagalan seseorang untuk mengembangkan larangan-larangan ke
dalam terhadap perilaku melanggar hukum.
Terdapat empat unsur kunci dalam teori
kontrol sosial mengenai perilaku kriminal menurut Hirschi (1969), yang meliputi
:
a. Kasih Sayang
Kasih sayang ini meliputi kekuatan suatu ikatan yang
ada antara individu dan saluran primer sosialisasi, seperti orang tua, guru dan
para pemimpin masyarakat. Akibatnya, itu merupakan ukuran tingkat terhadap mana
orang-orang yang patuh pada hukum bertindak sebagai sumber kekuatan positif
bagi individu.
b. Komitmen
Sehubungan dengan komitmen ini, kita melihat
investasi dalam suasana konvensional dan pertimbangan bagi tujuan-tujuan untuk
hari depan yang bertentangan dengan gaya hidup delinkuensi.
c. Keterlibatan
Keterlibatan, yang merupakan ukuran kecenderungan
seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan konvensional mengarahkan
individu kepada keberhasilan yang dihargai masyarakat.
a. Kepercayaan
Akhirnya kepercayaan memerlukan diterimanya
keabsahan moral norma-norma sosial serta mencerminkan kekuatan sikap
konvensional seseorang. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi ikatan sosial
antara seorang individu dengan lingkungan masyarakatnya.
Referensi.
Adang,Yesmil
Anwar. 2013. KRIMONOLOGI. Bandung. PT. Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar