Sabtu, 23 Juni 2018

(Materi) Teori Differential Association


Teori Differential Association

Hellow guys welcome to my blog, nah di blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang Differential Association yang dikemukan oleh Edwin Sutherland. Langsung aja ya kita bahas check it out.....
Edwin Sutherland (1947) memperkenalkan teori Asosiasi Diferensial. Menurutnya perilaku menyimpang merupakan suatu perbuatan yang didapatkan setelah melalui proses belajar. Proses belajar yang dimaksud adalah mempelajari dan memahami norman-norma yang menyimpang dari subkultur. Jadi, penyimpangan perilaku adalah fenomena yang dipelajari oleh seseorang dari orang lain atau kelompok.
Proses belajar norma penyimpangan ini persis dengan proses belajar konformitas (penyesuaian) dimana ada sosialisasi atas nilai-nilai yang disepakati bersama oleh suatu kelompok masyarakat. Namun, yang membedakannya adalah jika konformitas adalah proses belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan nilai dan norma bersama serta berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok, maka penyimpangan justru sebaliknya. Peyimpangan adalah proses belajar bagaimana mempelajari nilai dan norma yang menyimpang.
Menurut Sutherland, penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran atau penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang. Perilaku menyimpang dipelajari di dalam lingkungan sosial (eksternal), artinya semua tingkah laku dapat dipelajari dengan berbagai cara.
Adapun 9 proposisi dari Teori Asosiasi Diferensial, yaitu:
1.      Criminal behavior is learned (perilaku kriminal itu dipelajari).
Sutherland memandang bahwa perilaku kriminal bukan berasal dari dalam diri seseorang maupun faktor genetik yang dibawa individu. Melainkan berasal dari proses belajar nilai dan norma menyimpang. Semakin mahir seseorang mempelajari nilai dan norma yang menyimpang, maka semakin dalam dia melakukan prilaku menyimpang. Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit atau tidak pernah seseorang mempelajari norma menyimpang, semakin sulit dia melakukan penyimpangan.
2.      Criminal behavior is learned in interaction with other person of communication (perilaku kriminal/menyimpang dipelajari oleh seseorang dalam interaksinya dengan orang-orang lain dan melibatkan proses komunikasi yang intens).
Perilaku menyimpang itu dipelajari melalui interaksi yang intim. Dalam sosiologi interaksi itu terdiri atas dua, kontak dan komunikasi. Melalui interaksi yang intim tersebut seseorang akan mempelajari bagaimana nilai dan norma perilaku menyimpang tersebut.

3.      The prinsiple of the learning of criminal behavior occurs within intiminate personal groups (Bagian utama dari belajar tindakan kriminal/perilaku menyimpang terjadi di dalam kelompok-kelompok personal yang intim atau akrab).
Perilaku menyimpang terjadi dalam kelompok-kelompok peribadi yang akrab. Sebab, mempelajari nilai dan norma menyimpang tidak bisa dilakukan pada kelompok-kelompok besar (publik) yang tidak memiliki kedekatan. Karena, proses belajar norma menyimpang hanya bisa dilakukan dengan berkelanjutan dan dalam hubungan yang dekat. Maksudnya, seseorang yang mempelajari norma menyimpang haruslah memiliki kedekatan dengan kelompok-kelompok pribadi yang juga melakukan prilaku menyimpang. Mempelajari norma menyimpang tidak bisa dilakukan hanya dengan menjalin interaksi semu dan jangka pendek. Sebab, norma menyimpang tersebut diyakini Sutherland tidak akan terinternalisasi.
Merujuk pada pandangan Sutherland diatas, maka peran media massa dalam menyampaikan nilai dan norma menyimpang tidak banyak berpengaruh terhadap proses belajar penyimpangan. Sebab, media massa yang bukan merupakan kelompok personal hanyalah memainkan peran sekunder dalam mempelajar penyimpangan.
Tentu pandangan Sutherland ini mulai tidak dapat dibuktikan. Akibat kemajuan teknologi dan mulai memudarnya peran institusi-institusi (seperti keluarga, lingkungan bermain, sekolah,dll) yang memiliki kewenangan untuk mensosialisasikan nilai dan norma pada individu dan kemudian tergantikan oleh peran media massa dan jejaring sosial. Kelompok personal lambat laun berubah menjadi kelompok sekunder dalam mengajarkan penyimpangan dan digantikan oleh peran kelompok publik/massa.
4.      When criminal behavior is learned, the learning includes, a) techniques of commiting the crime, which are very complicated, sometimes very simple, b) the specific direction of motives, drives, rationalizations and attitudes (ketika perilaku jahat dipelajari, pembelajaran itu termasuk pula a) teknik melakukan kejahatan, yang kadang-kadang sangat sulit, kadang-kadang sederhana, b) arah khusus dari motif, dorongan rasionalisasi dan sikap-sikap).
Seseorang yang mempelajari perilaku menyimpang, berarti mempelajari berbagai hal mengenai perilaku menyimpang tersebut. Ia akan belajar bagaimana teknik melakukan prilaku menyimpang (kejahatan). Mereka yang melakukan prilaku menyimpang juga belajar tentang motif melakukan prilaku menyimpang tersebut. Ada alasan-alasan yang dianggap logis yang mendorong si pelaku untuk melakukan perilaku menyimpang. Ia juga belajar bagaimana cara bersikap sesuai dengan kelompok atau orang yang telah melakukan perilaku menyimpang tersebut.
Sebagai contoh, para siswa baru di salah satu SMA sedang memasuki masa orientasi di sekolah. Beberapa diantara mereka memiliki hubungan yang akrab dengan seniornya di sekolah. Setiap hari berkumpul sepulang sekolah, melakukan aktivitas bersama sehingga mereka menjadi akrab satu sama lain. Siswa baru tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan memperhatikan bagaimana seniornya berperilaku. Akhirnya, mereka tertarik untuk berperilaku yang sama. Siswa baru tersebut awalnya mempelajari apa alasan seniornya melakukan perilaku menyimpang, misalnya merokok. Motif seperti ingin terlihat “macho” dikalangan siswi-siswi, agar terlihat lebih dewasa dan motif-motif lainnya mendorong siswa baru tersebut untuk ikut mempelajari bagaimana teknik merokok dan sikap-sikap siswa merokok.
Akhirnya, setelah ia mempelajari bagaimana motif seniornya merokok, siswa baru tadi akan mempelajari bagaimana cara atau teknik menghisap rokok, menyembunyikan rokok ketika di sekolah hingga diam-diam merokok di sudut sekolah agar tidak ketahuan oleh guru.
5.      The specific direction of motives and drives is learned from definition of legal code as favorable or unfavorable (arah khusus dari motif dan dorongan dipelajari dari defenisi aturan hukum yang menguntungkan atau tidak menguntungkan).
Petunjuk khusus tentang motif dan dorongan untuk berperilaku menyimpang itu dipelajar dari defenisi-defenisi tentang norma-norma yang baik atau tidak baik. Proposisi ini mengakui keberadaan norma-norma untuk setia dan taat pada aturan-aturan yang sudah ada dan ia mungkin dapat juga melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan yang sudah ada. Sebagai contoh, ada orang yang berpendapat bahwa mencuri adalah perbuatan yang buruk atau salah jika barang-barang yang dicuri adalah barang-barang milik orang kurang mampu dan dalam tindakan pencurian itu ada orang yang celaka. Namun, ketika pencurian itu dilakukan pada orang kaya yang tamak dan tidak menimbulkan korban (yang dicelakai) maka tindakan tersebut ia (si pencuri) anggap bukan sebagai perilaku menyimpang atau kejahatan.
6.      A person becomes delinquent because of an access of defenition favorable of violation of law over definition un favorable to violation of law (seseorang menjadi delinkuen disebabkan pemahaman terhadap defenisi yang menguntungkan dari pelanggaran terhadap hukum melebihi defenisi-defenisi yang tidak menguntungkan untuk melanggar hukum).
Seseorang yang berannggapan bahwa perbuatan menyimpang yang ia lakukan lebih menguntungkan dari pada tidak melakukannya, maka ia akan memilih untuk melakukan tindakan tersebut. Alasannya bisa beragam, seperti lemahnya sanksi, lemahnya ikatan dalam masyarakat dan menguntungkan secara ekonomi. Dengan keuntungan yang demikian, maka ia akan lebih memilih untuk melanggar norma (melakukan prilaku menyimpang/kejahatan).
Namun, jika orang tersebut menganggap bahwa perbuatan menyimpang/ kejahatan yang dilakukan akan merugikannya karena adanya sanksi tegas, ikatan dalam masyarakat kuat atau tidak menguntungkan secara ekonomi, maka ia tidak akan melakukan pelanggaran norma (prilaku menyimpang/kejahatan).
7.      Differential Association may vary in frequency, duration, priority and intensity (Asosiasi yang berbeda-beda mungkin beraneka ragam dalam frekuensi, lamanya, prioritas dan intensitas).
8.      The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all the mechanism that are involved in any other learning. ( proses pembelajaran perilaku jahat melalui persekutuan dengan pola-pola kejahatan dan anti kejahatan meliputi seluruh mekanisme yang rumit dalam setiap pembelajaran lainnya).
9.      While a criminal behavior is an explanation of general needs and values, it is not ecplained by those general needs and values since non criminal behavior is and explaination the same need and values. (walaupun perilaku jahat merupakan penjelasan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum, tetapi hal itu tidak dijelaskan oleh kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut. Karena perilaku nonkriminal dapat tercermin dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang sama).




SUMBER:
Anwar, Yesmil dan Adang, Kriminologi, 2010, Refika Aditama, Bandung

Selasa, 19 Juni 2018

(Materi) Tipologi Adaptasi


Teori Tipologi Adaptasi

Haii welcome to my blog.  Di blog ini saya akan mereview teori pada mata kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang yang membahas mengenai Teori Tipologi Adaptasi pada sosiologi perilaku menyimpang.
Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Merton yang menyatakan bahwa penyimpangan struktur sosial tidak hanya membuahkan hasil perilaku yang bersifat konformis saja, disamping itu juga penyimpangan menghasikan bentuk nyatanya berupa perilaku yang menyimpang. Merton mengidentifikasi lima tipe cara adaptasi. Empat di antaranya merupakan perilaku menyimpang, yaitu sebagai berikut.
  • Komformitas (conformity) adalah perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut (cara konvensional dan melembaga).
  • Inovasi (innovation) adalah perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (termasuk tindak kriminal).
  • Ritualisme (ritualism) adalah perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya.
    Namun, masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat, dalam arti ritual (upacara) dan perayaan masih diselenggarakan tetapi maknanya telah hilang.
  • Pengunduran/pengasingan diri (retreatism): meninggalkan, baik tujuan konvensional maupun cara pencapaiannya yang konvensional, sebagaimana dilakukan oleh para pecandu obat bius, pemabuk, gelandangan, dan orang-orang gagal lainnya.
  • Pemberontakan (rebellion): penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan tujuan dan cara baru, misalnya para reformator agama.

(MATERI) Teori Labeling Sosiologi Perilaku Menyimpang


Teori Labelling Sosiologi Menyimpang

Haii welcome to my blog.  Di blog ini saya akan mereview teori pada mata kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang yang membahas mengenai Teori Labelling pada sosiologi perilaku menyimpang.
Menurut Lemert (dalam Sunarto, 2004) Teori Labeling adalah penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/ label dari masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut. Lahirnya teori labeling, diinspirasi oleh perspektif interaksionisme simbolik dan telah berkembang.
Labeling adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu per satu. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi. Dalam teori labelling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan “seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian”. Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut “anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel”. Atau penerapan lain”  “anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh”. Bisa juga seperti ini “Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar”. Hal ini berkaitan dengan pemikiran dasar teori labelling yang biasa terjadi, ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan, sehingga orang tersebut cenderung mengikuti label yang telah ditetapkan kepadanya.
Contoh dari teori labeling adalah seperti berikut seseorang yang baru saja keluar dari penjara. Ketika dia menjalani hukuman penjara karena perbuatan yang dia lakukan di masa lalu, sesungguhnya dia telah mengalami proses labeling, yaitu keputusan dari penguasan yang menyatakan bahwa dia adalah penjahat dan patut untuk dihukum penjara (sesuai ketentuan yang diutarakan oleh Schrag, penangkapan adalah proses labeling). Setelah keluar dari penjara tersebut, masyarakat akan tetap menilainya sebagai penjahat karena cap yang telah melekat pada dirinya (sulit melepaskan label). Terjadi interaksi antara individu yang baru keluar dari  penjara tersebut dengan masyrakatnya, dan interaksi itu menghasilkan kesimpulan bahwa dia dicap sebagai penjahat meskipun sudah dunyatakan bebas. Hal ini kemudian akan berpengaruh kepada kehidupan, mental, dan sisi psikologis seseorang tersebut, yang kemudian menghambat karir atau usahanya untuk bertahan, seperti misalnya sulit mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan kembali kepercayaan dari orang-orang. Dampak seperti ini kemudian menyebabkan seseorang tersebut akhirnya mengulangi perbuatannya dan akhirnya mendidentifikasi dirinya sebagai penjahat




sumber:

Kamanto Sunarto (2004) Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

(MATERI) Teori Anomi Sosiologi Perilaku Manyimpang



Teori Anomi Sosiologi Perilaku Manyimpang 

Haii welcome to my blog.  Di blog ini saya akan mereview teori pada mata kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang yang membahas mengenai Teori Anomi pada sosiologi perilaku menyimpang.
Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak perubahan sosial.Dalam penelitian itu ia dengan sangat  baik memberikan gambaran mengenai konsep anomi.
Anomie mengacu pada  hancurnya norma-norma saosial, ketika norma tidak lagi mengontrol tindakan anggota masyarakat. Individu-individu  tidak dapat menemukan kedudukan  dan mereka dalam masyarakat. Mereka juga tak dapat menemukan aturan-aturan jelas yang membantu mengarahkan mereka. Kondisi yang berubah itu mengarah pada ketidak puasan, konflik, dan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1938, Robert K. Merton mengadopsi konsep anomie Emile Durkheim untuk menjelaskan deviasi di Amerika. Konsepsi Merton ini sebenarnya dipengaruhi intelectual heritage (kondisi intelektual) Pitirin A.Sorokin (1928) dalam bukunya Contemporary Sociological Theories dan Talcot Parsons (1937) dalam buku The Structure of Social Action. Menurut Robert K. Merton, konsep anomie diredefinisi sebagai ketidaksesuaian atau timbulnya diskrepansi/perbedaan antara cultural goals dan institutional means sebagai akibat cara masyarakat diatur (struktur masyarakat) karena adanya pembagian kelas. Karena itu, menurut John Hagan, teori anomie Robert K. Merton berorientasi pada kelas.
Teori anomie Robert K. Merton pada mulanya mendeskripsikan korelasi antara perilaku delinkuen dengan tahapan tertentu pada struktur sosial akan menimbulkan, melahirkan dan menumbuhkan suatu kondisi terhadap pelanggaran norma masyarakat yang merupakan reaksi normal. Untuk itu, ada dua unsur bentuk perilaku delinkuen yaitu unsur dari struktur sosial dan kultural. Konkritnya, unsur kultur melahirkan goals dan unsur struktural melahirkan means .
Munculnya keadaan anomi, oleh Merton diilustrasikan sebagai berikut (Elly M.Setiadi, 2011):
1.      Masyarakat industri modern lebih mementingkan pencapaian kesuksesan materi yang diwujudkan dalam bentuk kemakmuran atau kekayaan dan pendidikan yang tinggi.
2.      Apabila hal tersebut tercapai, maka mereka dinggap sebagai orang yang telah mencapai tujuan-tujuan status atau cultural (cultural golds) yang dicita-citakan oleh masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut, ternyata harus melalui akses atau cara kelembagaan yang sah.
3.      Namun ternyata, akses kelembagaan yang sah jumlahnya tidak dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama lapisan masyarakat bawah.
4.      Akibat dari keterbatasan akses tersebut, maka muncul situasi anomi, yaitu: situasi di mana tidak ada titik temu antara tujuan-tujuan status/kultural dan cara-cara yang sah yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
5.      Dengan demikian, anomi adalah keadaan atau nama dari situasi di mana kondisi sosial/situasi masyarakat lebih menekankan pentingnya tujuan-tujuan status, tetapi cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut jumlahnya sedikit.
Dalam perkembangan berikutnya, pengertian anomie mengalami perubahan dengan adanya pembagian tujuan-tujuan dan sarana-sarana dalam masyarakat yang terstruktur. Misalnya, adanya perbedaan-perbedaan kelas-kelas sosial yang menimbulkan adanya perbedaan tujuan-tujuan dan sarana yang tersedia
Contoh kasus nyata dalam kehidupan sehari-hari mengenai anomi (anomie) misalnya saja perilaku menyimpang, seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang mana prilaku tersebut pada hekaktnya sudah dinyatakan  terlarang, lantaran prilaku ini tidak hanya merugikan pada diri sendiri akan tetapi merugikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dampak yang ditimbulkan dari kondisi ini adalah kepercayaan dan melunturkan budaya malu diri sendiri, selain itu juga merugikan banyak pihak yang harus bersusah payah karena prilaku salah seorang pejabat. Kasus ini di gambaran dalam tindakan Kerupsi E-KTP yang berjalan di Indonesia, E-KTP bukan hanya merugikan masyarakat secara umum, akan tetapi kondisi ini merugikan kepercayaan yang dari anggota dewan untuk memenang amanah rakyat.
Oleh karena itulah dalam ciri khas dalam tindakan atau prilaku yang tergolong bentuk anomi (anomie) ini antara lain adalah sebagai berikut;
  1. Pemberontakan, yaitu perbutan yang dilakukan oleh seseorang secara individu atau kelompok orang untuk menolak sarana dan tujuan-tujuan, yang mana sara dan tujuan tersebut disahkan oleh masyarakatnya secara legal dan malah memilih untuk menggantinya dengan cara baru. Contohnya, pemberontakan yang dilakukan di Papua dengan menamakan diri sebagai OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang terus menerus melakukan pemberontakan pada pemerintahan yang sah, yakni NKRI.
  2. Ritualisme, adalah tindakan yang dijalankan oleh seseorang secara konvensional, akan tetapi dari tindakan tersebut melupakan tujuan yang sebenarnya ada. Cara-cara yang dilakukan bahwa tetap menjadi kebiasaan akan tetapi yang perlu diingat fungsi dan maknanya sudah hilang. Contohnya, banyak siswa di lingkungan pendidikan yang tertib mengikuti upacara bendera hanya sekadar untuk ikut peraturan sekolah dan bukan untuk semangat nasionalisme.


(Materi) Teori Kontrol Sosial


Teori Kontrol Sosial

Hellow guys welcome to my blog, nah di blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang kontrol sosial. Langsung aja ya kita bahas check it out.....
Teori control social merupakan suatu teori tentang penyimpangan yang disebabkan oleh kekosongan control atau pengendalian social. Teori ini dibangun atas pandangan yang mana pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk tidak patuh pada hukum serta memiliki pula dorongan untuk melawan hukum. Oleh sebab itu didalam teori ini menilai bahwa perilaku menyimpang merupakan konsekuensi logis dari kegagalan dari seseorang untuk menaati hukum yang ada.
Teori kontrol sosial membahas isu-isu tentang bagaimana masyarakat memelihara atau menambahkan kontrol sosial dan cara memperoleh konformitas atau kegagalan meraihnya dalam bentuk penyimpangan (Efrank E. Hagan, 2013: 236)
Travis HIrchi yang merupakan pelopor dari teori ini mengatakan bahwa “Perilaku criminal merupakan kegagalan kelompok-kelompok social konvensional seperti; keluarga, sekolah, kawan sebaya untuk mengikat atau terikat dengan individu”. (Yesmil Anwar Adang, 2013:102).
            Landasan berpikir teori ini adalah tidak melihat individu sebagai orang yang secara intriksik patuh pada hukum, namun menganut segi pandangan antitesis di mana orang harus belajar untuk tidak melakukan tindak pidana. Mengingat bahwa kita semua dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk melanggar peraturan-peraturan di dalam masyarakat, delinkuen di pandang oleh para teoretisi kontrol sosial sebagai konsekuensi logis kegagalan seseorang untuk mengembangkan larangan-larangan ke dalam terhadap perilaku melanggar hukum.
Terdapat empat unsur kunci dalam teori kontrol sosial mengenai perilaku kriminal menurut Hirschi (1969), yang meliputi :
a.    Kasih Sayang
Kasih sayang ini meliputi kekuatan suatu ikatan yang ada antara individu dan saluran primer sosialisasi, seperti orang tua, guru dan para pemimpin masyarakat. Akibatnya, itu merupakan ukuran tingkat terhadap mana orang-orang yang patuh pada hukum bertindak sebagai sumber kekuatan positif bagi individu.
b. Komitmen
Sehubungan dengan komitmen ini, kita melihat investasi dalam suasana konvensional dan pertimbangan bagi tujuan-tujuan untuk hari depan yang bertentangan dengan gaya hidup delinkuensi.
c. Keterlibatan
Keterlibatan, yang merupakan ukuran kecenderungan seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan konvensional mengarahkan individu kepada keberhasilan yang dihargai masyarakat.
a.    Kepercayaan
Akhirnya kepercayaan memerlukan diterimanya keabsahan moral norma-norma sosial serta mencerminkan kekuatan sikap konvensional seseorang. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi ikatan sosial antara seorang individu dengan lingkungan masyarakatnya.
Referensi.
      Adang,Yesmil Anwar. 2013. KRIMONOLOGI. Bandung. PT. Refika Aditama.

Kamis, 17 Mei 2018

Review Materi Presentasi Interpersonal and Explanations Situational


REVIEW TEORI
INTERPERSONAL DAN EXPLANATIONS SITUATIONAL
Dosen: Abdul Rahman Hamid, SH, MH
DISUSUN OLEH :
Alviana Damayati
Belinda Alinska
 Fataya Shoba
 Livia Islaili
 Minarni
Novianti
Oktaviany Putri Hartanti
 Rusydah Afifi
Sita Awalia Saputri
SOSIOLOGI PERILAKU MENYIMPANG
PENDIDIKAN SOSIOLOGI (B) 2015
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
INTERPERSONAL DAN EXPLANATIONS SITUATIONAL
Tinjauan Sejarah dan Asumsi umum
Teori situasional interpersonal merupakan pengembangan teori dan individualistik yang lebih baru dan radikal perspektif label. Teori interpersonal Edwin Sutherland, asosiasi diferensial, dikembangkan selama tahun 1920-an, dn  berkelanjutannya dengan penelitian ekologi tentang kriminalitas di Chicago, seperti Henry McKay.
Dalam Bab 5, yang meneliti disorganisasi sosial dan anomi, ditekankan bahwa penjelasan tentang kenakalan berbasis masyarakat dan sosial tidak dapat menjelaskan perilaku individu. Sutherland sangat menyadari kekurangan studi ekologi kejahatan di Chicago. Teori hubungan diferensial Sutherland, oleh karena itu, merupakan upaya untuk "menjembatani kesenjangan," sehingga untuk berbicara, antara atomistik, penjelasan individual dari pergantian abad ini dan teori lingkungan yang muncul dari kenakalan tahun 1920-an dan 1930-an..
            Perbedaan utama antara penjelasan situasional Matza dan penjelasan lain  termasuk Sutherland, adalah pentingnya kehendak dan pilihan manusia dalam perilaku. Menurut Matza, semua penjelasan tentang kenakalan terlalu deterministik. Penjelasan ini membuat sosiolog menjadi semakin tidak puas dengan penjelasan kausal sosiologis dan psikologis. Sehingga Teori Sutherland sendiri berdiri sebagai pernyataan transisi antara penggambaran kenakalan sebelumnya dan deterministik dan kemudian perspektif tentang kenakalan, yang cenderung lebih fokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi deskripsi perilaku sebagai tunggakan dan bukan pada penyebab perilaku di tempat pertama.
Asumsi utama teori interpersonal dan situasional kenakalan adalah keyakinan bahwa perilaku manusia, termasuk perilaku nakal, fleksibel dan tidak tetap. Kenakalan muncul dari kondisi sosial umum yang sama seperti perilaku yang tidak patuh, dan orang yang sama mungkin melakukan kedua jenis tindakan di waktu yang berbeda. Asumsi ketiga dari teori-teori ini adalah bahwa perilaku yang paling nakal dilakukan dalam konteks kelompok atau geng. Sementara situasi tertentu di mana perilaku nakal muncul dapat berfluktuasi,  karena justru itu mencakup norma kelompok dan pola perilaku.


ASOSIASI DIFERENSIAL
Teori interpersonal dikenal dengan kenakalan dan kejahatan orang dewasa. Yang kemudian teori ini dikembangkan oleh shuterland dengan nama teori asosiasi diferensial. Inti utama dari teori ini adalah, perilaku yang dilakukan merupakan perilaku hasil belajar dan dipelajari melalui sebuah grup kecil atau lembaga informal yang kemudian pembelajaran tersebut berkembang sesuai dengan pengalaman juga serta dari peristiwa terkini. Perbedaan daerah tentu mengakibatkan perbedaan cara pengaturan yang berbeda, ada yg mendorong untuk meningkatkan kriminalitas ada juga yang mencegah kriminalitas. Sutterland kemudian merevisi teori tsb dengan memakai 7 proposisi, dimana inti dari hal tersebut adalah :
Perilaku kriminal bukanlah suatu hal yang mewarisi atau dari lahir, tetapi perilaku tsb tercipta dari pengalaman Perilaku kriminal diciptakan dari hasil interaksi dengan grup kecilnya melalui proses komunikasi baik lgsg maupun tidak langsung Media massa jg berpengaruh dalam membentuk prilaku criminal Perilaku kriminal merupakan hasil belajar, dikarenakan didalamnya mempelajari teknik kejahatan, apa motivnya dan mengapa hal tsb dilakukan
Proposisi 5, adanya motif dan dorongan dipelajari dari aturan hukum, dimana aturan tersebut dapat dimanfaatkan atau tidak (ada celah ga). Penjelasan dari pernyataan ini, mengacu pada bagaimana dia menyikapi aturan. Dalam hal ini seseorang yang melakukan tindakan kejahatan dalam hukum yang menguntungkan atau tidak menguntungkan apakah dia bisa konsisten dalam menyikapi aturan. Tapi seringkali di amerika hal itu campur aduk dan bertentangan dengan individu.
            Proposisi 6, seseorang menjadi nakal karena adanya kesempatan untuk melanggar hukum. Pernyataan ini merupakan inti dari teori. Ini menekankan sifat kenakalan yang sementara. . Pernyataan ini lebih jauh mengilustrasikan sebuah titik yang dibuat sehubungan terhadap norma dan perilaku yang nakal itu mungkin menjadi tidak konsisten.
            Proposisi 7. Asosiasi diferensial dapat bervariasi dalam frekuensi, durasi, prioritas, dan intensitas. Istilah-istilah ini menunjukkan upaya untuk memenuhi syarat pengaruhnya pernyataan tentang undang-undang tentang perilaku. Frekuensi dan durasi memiliki arti yang sama yang mereka lakukan dalam penggunaan umum. Prioritas menunjukkan bahwa asosiasi (baik yang nakal atau tidak beradab) terbentuk pada anak usia dini dapat diutamakan dalam pengaruh atas asosiasi kemudian. Intensitas mengacu pada prestise suatu asosiasi atau, sebenarnya, untuk kekuatan pengaruh satu orang atau kelompok mungkin memiliki lebih dari yang lain.
            Proposisi 8. Proses belajar perilaku kriminal oleh asosiasi dengan pola kriminal dan antikriminal melibatkan semua mekanisme yang ada terlibat dalam pembelajaran lainnya. Belajar di antara manusia, dengan kata lain, adalah kompleks dan mencakup lebih dari sekadar meniru atau menyalin. Di pada saat yang sama, tunggakan dan tindak kejahatan dipelajari dalam hal yang sama cara seperti semua tindakan manusia lainnya. Perilaku itu mungkin berbeda, tetapi proses belajar melalui mana perilaku berkembang adalah sama.
            Proposisi 9. Sementara perilaku kriminal adalah ekspresi kebutuhan umum dan nilai-nilai, itu tidak dijelaskan oleh kebutuhan dan nilai-nilai umum, karena non-kasar perilaku adalah ekspresi dari kebutuhan dan nilai yang sama. Pencurian dan jujur tenaga kerja keduanya memiliki tujuan yang sama — menghasilkan uang untuk mendapatkan beberapa ukuran kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Jadi, tujuan para penjahatdan nondelinquents sering sama; Namun caranya berbeda. Tentu saja, pandangan kriminalitas ini tidak unik untuk Sutherland tetapi telah ditawarkan oleh sosiolog lain, terutama oleh Robert Merton dalam teori penyimpangan akhir-akhir yang dibahas dalam Bab 5. Sutherland menawarkan proposisi ini, bagaimanapun, dalam upaya untuk membujuk kriminolog tidak memisahkan tindakan nakal dan tidak menentukan dasar dari dorongan dan tujuan yang berbeda. Jika kita semua berperilaku sesuai dengan tujuan umum yang sama, maka faktor-faktor lain harus diidentifikasi untuk menjelaskan tunggakan dan pilihan yang tidak tepat untuk mencapai tujuan yang sama.
            Beberapa kriminolog menyarankan modifikasi konsep tersebut asosiasi diferensial untuk tujuan presisi yang lebih tinggi atau teratur untuk memperluas ruang lingkup teori. Melvin DeFleur dan Richard Quinney (1966), misalnya, memformulasikan ulang sembilan proposisi. Menggunakan logika dan simbol teori himpunan, DeFleur dan Quinney berpendapat bahwa teori asosiasi diferensial dapat diperkuat secara formal jika itu didasarkan pada konsep interaksi simbolik dan pembentukansikap. Pernyataan dasar mereka tentang penyebab kejahatan, berdasarkan prinsip asosiasi diferensial, adalah bahwa perilaku kriminal berasal dari belajar dari "motivasi kriminal, sikap dan teknik" melalui proses interaksi simbolis dalam hubungan yang erat, primer informal kelompok (DeFleur dan Quinney, 1966: 14).
            Daniel Glaser (1956) menawarkan konsep "identifikasi diferensial" sebagai konseptualisasi asosiasi diferensial yang lebih inklusif. Teori identifikasi diferensial dinyatakan sebagai berikut: “seseorang mengejar perilaku kriminal sejauh ia mengidentifikasi dirinya dengan nyata atau imajiner orang-orang dari perspektif siapa perilaku kriminalnya tampaknya dapat diterima ”(Glaser, 1956: 440; cetak miring dalam bahasa aslinya). Konsep identifikasi diferensial menekankan pentingnya keanggotaan kelompok dan peran sosial di membentuk pilihan perilaku seseorang. Selain itu, konsepnya memungkinkan untuk pengaruh kelompok referensi — kelompok yang dicari oleh seorang pemuda evaluasi dan persetujuan umum,  walaupun dia tidak memiliki kontak langsung dalam grup tersebutapakah dia berhubungan langsung atau tidak dengan kelompok (lihat juga, Haskell, 1960).
Konsep identifikasi diferensial sbg konseptualisasi asosiasi diferensial yang lebih inklusif. Seseporang bergabung dalam kelompok tertentu dan mempunyai panutan hal tersebut dapat membentuk seseorang dapat bersikap atau tidak. Selanjutnya konsep tersebut menjelaskan jika perilaku dapat di pengaruhi oleh kelompok tertentu,grup dimana pemuda mencari pembenaran. Meskipun dia berinteraksi langsung atau tidak.
Bagaimanapun, sebagian besar yang menyarankan memformulasikan teori diferensiasi sosial berdasarkan pada prinsip pengkodisian perilaku atau teori pembelajaran. Menyikapi saran dari C.R Jeffery (2995) ) untuk meletakkan konsep dan prinsip-prinsip asosiasi diferensial dalam istilah teori perilaku operan, Robert Burgess dan Ronald Akers (1966) mengusulkan pernyataan ulang tahap-demi-tahap dari asosiasi diferensial sesuai untuk ide-ide seperti penguatan dan hukuman.Penggunaan konsep-konsep ini tidak menawarkan teori baru, tetapi mereka digantikan dalam upaya untuk menempatkan elemen kunci dari teori ke dalam konstruksi yang dapat diuji.Demikian, bukannya mengatakan bahwa perilaku kriminal dipelajari sebagian besar dalam kelompok utama, Burgess dan Akers berpendapat bahwa perilaku kriminal terutama dipelajari "Dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari sumber bala bantuan utama individu" (1966: 146).Tema ini juga telah diterapkan oleh Reed Adams (1973) untuk penggunaan prinsip pembelajaran dalam penelitian. kriminologi umum,
            Sementara semua revisi yang disarankan ini telah menambahkan beberapa wawasan pada formulasi asosiasi diferensial Sutherland, mereka tidak secara signifikan mengubah prinsip-prinsip dasar teori. Identifikasikelompok referensi dan pengaruh non-sosial pada sikap dan perilaku cukup penting, tetapi tidak sepenuhnya tidak diakui oleh Sutherland. Intinya, reformulasi asosiasi diferensial sesuai dengan konsep teori himpunan atau teori pembelajaran telah secara resmi menyatakan apa sudah tersirat, jika tidak eksplisit, di Sutherland.
Selain itu, tidak semua sepakat bahwa fitur formalistik teori belajar menawarkan interpretasi pembelajaran manusia yang paling mendalam (Halbasch, 1979). Argumennya di sini adalah teori diferensial dari Sutherland asosiasi diperbolehkan untuk pengaruh emosi manusia dan umpan balik interpersonal dalam penjelasan perilaku, sedangkan behavioris konsep menyiratkan tanggapan yang bersifat animalistic, noninterpretatif terhadap rangsangan, karakteristik yang tidak berlaku untuk manusia. Untuk alasan ini, Berikut evaluasi asosiasi diferensial didasarkan pada teori seperti yang dikemukakan oleh Sutherland.
Evaluasi teori penyimpangan dan kenakalan
Teori asosiasi diferensial belum sepenuhnya diterima oleh kriminolog. Beberapa serangan paling tajam telah memusatkan perhatian pada anggapan bahwa perilaku kriminal dipelajari. Dikatakan oleh beberapa orang bahwa pandangan ini terlalu sederhana, dengan mempertimbangkan kompleksitas pola dan motivasi kejahatan, atau bahwa intisari pernyataan tidak menambahkan sesuatu yang baru pada pemahaman tentang kriminalitas, dan bahwa hal itu meremehkan pengaruh faktor individualistik. Menurut kritik-kritik ini, teori ini dapat berfungsi sebagai penjelasan yang lebih baik tentang mengapa remaja tidak melakukan tindakan kenakalan daripada mengapa mereka melakukan pelanggaran (Glueck, 1962; Radzinowicz , 1966).
Argumen lain adalah bahwa asosiasi diferensial tidak memperhitungkan pengaruh variabel kepribadian dalam pengembangan definisi relatif terhadap pelanggaran hukum. Kritik ini adalah salah satu yang agak keras sejauh teori ini memungkinkan interpretasi individu dan penerapan definisi kode hukum. Pada suatu waktu, Sutherland merasa perlu untuk memasukkan ciri-ciri kepribadian ke dalam teorinya, tetapi kemudian refleksi menyebabkan dia mempertanyakan kebijaksanaan modifikasi tersebut (Sutherland, 1973).
Bagian dari kesulitan dengan memasukkan variabel kepribadian ke dalam teori terletak dalam menentukan ciri-ciri mana yang harus dimasukkan dan dalam kondisi apa untuk memasukkannya — yaitu, bagaimana mereka diukur. Untuk bergerak di luar sifat-sifat tertentu dan untuk menetapkan bahwa teori itu pada umumnya mengabaikan interpretasi individual, sekali lagi, keliru. Pertanyaannya kemudian menjadi bukan apakah tanggapan individu terhadap kondisi situasional mempengaruhi perilaku, tetapi jenis tanggapan apa yang mempengaruhi perilaku dan dalam hal apa. Keluhan lain terhadap teori ini menyangkut pengukuran konsep-konsep kunci. Sebagai contoh, jika, seperti yang dinyatakan oleh teori, karakteristik tertentu dari asosiasi memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku daripada karakteristik lain, seperti intensitas dan prioritas, bagaimana kualitas tersebut diukur dan dibandingkan? Demikian pula, bagaimana suatu kelebihan definisi diukur secara obyektif dan diterapkan pada tindakan tertentu (Sutherland dan Cressey , 1978)
Dari semua kritik yang dikenakan pada teori asosiasi diferensial, masalah pengukuran adalah yang paling serius. Beberapa peneliti berkomentar tentang kesulitan mengukur definisi seseorang tentang hukum, sumber mereka, dan kualifikasi mereka ( Cressey , 1952; Short, 1960; Stanfield, 1966). Masalah utama pengukuran dengan teori ini adalah fokus historis dan situasionalnya. Karena sebagian besar pelaku kejahatan ditemukan setelah fakta, maka untuk berbicara, rekonstruksi pikiran dan suasana hati pada saat tindakan itu dilakukan sangat sulit untuk dikembangkan. Ketika seseorang menambah kesulitan ini masalah merekonstruksi peristiwa dan pengaruh sebelumnya pada sikap dan perilaku seseorang, tugas menjadi hampir tidak mungkin.
Terlepas dari kesulitan dan kekurangan metodologis ini, ada upaya-upaya empiris untuk menguji validitas teori, dengan remaja maupun orang dewasa. Satu penilaian empiris dari asosiasi diferensial relatif terhadap kenakalan adalah fakta yang terdokumentasi dengan baik bahwa sebagian besar kenakalan dilakukan dalam konteks kelompok (Weis, 1980; Jensen dan Rojek , 1992). Pentingnya keseluruhan temuan ini untuk teori asosiasi diferensial, bagaimanapun, dipertanyakan. Untuk satu hal, hubungan itu tidak berbicara dengan masalah sikap dan nilai bersama, atau untuk masalah kelebihan definisi yang menguntungkan terhadap pelanggaran hukum, baik di dalam kelompok atau secara individu. Selain itu, sifat kelompok kenakalan tidak menentukan kondisi sementara kausalitas — yaitu, apakah asosiasi terjadi sebelum atau sesudah kenakalan adalah yang pertama atau paling sering dilakukan.
Secara khusus, dengan mengacu pada kenakalan, isu-isu mengenai hubungan antara asosiasi kelompok sejawat dan kenakalan telah dipelajari secara empiris. Investigasi ini umumnya mendukung proposisi dasar teori (Short, 1957,1960; Reiss dan Rhodes, 1964; Voss, 1964; Jensen, 1972; Hepburn, 1977). Untuk sebagian besar, bagaimanapun, penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan diferensial hanya salah satu dari dua atau tiga penjelasan kausal yang didukung. Dalam sebuah studi terhadap hampir 1600 siswa SMP dan SMA kulit putih di California, misalnya, Gary Jensen (1972) menemukan dukungan untuk efek independen dari variabel asosiasi diferensial dan variabel pengawasan keluarga pada kenakalan yang dilaporkan sendiri. Artinya, setiap set faktor memiliki pengaruh unik yang terpisah pada perilaku nakal.
Variabel hubungan diferensial diukur menurut jumlah dari teman-teman dekat yang nakal, persepsi "masalah" di lingkungan, tingkat kenakalan resmi dari sekolah-sekolah yang hadir, dan langkah-langkah penerimaan sikap atau definisi yang menguntungkan terhadap pelanggaran hukum. Penelitian terus mendokumentasikan pentingnya lampiran rekan sejawat, dan definisi yang mendukung pelanggaran hukum, dalam penjelasan tentang kenakalan. Dalam sebuah studi tentang catatan polisi di Swedia, misalnya, Sarnecki (1986) menyimpulkan bahwa aktivitas kelompok lebih penting bagi pelaku daripada tindakan pelanggaran yang dilakukan.
Beberapa pemeriksaan komparatif dari asosiasi diferensial dan teori lain, terutama teori kontrol sosial (lihat Bab 8), menyimpulkan bahwa hubungan diferensial adalah penjelasan yang lebih baik tentang kenakalan laporan diri daripada faktor kontrol sosial seperti keterikatan pada orang tua dan rumah yang rusak ( Matsueda , 1982 ; Matsueda dan Heimer , 1987; Paternoster dan Triplett, 1988; Cashwell dan Vacc , 1996; Hartjen dan Kethineni , 1999; Hartjen dan Priyadarsini , 2003).
Hubungan diferensial diukur oleh asosiasi rekan dan definisi yang menguntungkan untuk penggunaan narkoba. Para peneliti juga memasukkan variabel lain ke dalam penelitian mereka, seperti lampiran orang tua, agama, dan pendidikan dan kepercayaan konvensional. Mereka menyimpulkan bahwa variabel asosiasi diferensial , terutama asosiasi rekan, lebih terkait erat dengan kenakalan daripada keterikatan atau keyakinan. Meskipun demikian, Johnson et al. berpendapat bahwa analisis mereka mendukung upaya untuk menggabungkan hubungan diferensial dengan teori kontrol sosial untuk menghasilkan penjelasan "superior" tentang kenakalan (lihat juga, Marcos et al., 1986; Aseltine, 1995).
Variabel hubungan diferensial diukur dari penjelasan interpersonal dan situasional. Hal ini dapat diukur dari teman-teman dekat yg menyimpang, persepsi masalah dilingkungan sekolah, tingkat kenakalan resmi dari sekolah-sekolah, dan persepsi yang mendukung pelanggar hukum. Untuk penelitian yg digali dari teman dekat dan persepsi yang mendukung pelanggar hukum menjadi hal yg penting dalam menjelaskan sebuah penyimpangan. Matsueda dan Heimer (1987) berpendapat bahwa dampak penting dari asosiasi diferensial terletak pada konsep definisi yang mendukung pelanggaran hukum. Kesimpulan serupa dicapai oleh Thompson et al. (1984), yang menyimpulkan bahwa teori asosiasi diferensial adalah penjelasan yang lebih baik tentang kenakalan daripada teori kontrol sosial. Dalam penelitian ini, kuesioner laporan kenakalan melaporkan diri kepada 724 siswa SMA laki-laki dan perempuan. Ukuran utama dari hubungan diferensial adalah teman yang nakal, dan faktor ini secara substansial lebih terkait dengan kenakalan daripada variabel-variabel lain seperti sikap konvensional dan keterikatan dengan orang tua, sekolah, dan teman sebaya. Teori asosiasi diferensial tampaknya menawarkan penjelasan yang masuk akal tentang kenakalan individu dalam konteks lingkungan, meskipun banyak komentar kritis mengenai ruang lingkup dan logika tidak dapat diabaikan. Secara empiris, teori ini sulit untuk diuji, namun beberapa upaya untuk menilai validitasnya secara umum telah mendukung. 
Dalam analisis (War, 2003) berpendapat bahwa kesimpulan dari dukungan analisis ini beberapa prinsip asosiasi diferensial, diakui bahwa penelitian ini tidak terbantahkan membuktikan teori.  menemukan bahwa meskipun kecenderungan untuk kenakalan dan dampak dari teman sebaya pada perilaku menurun setelah remaja, persahabatan, terutama yang baru-baru ini, bahkan di antara rekan-rekan nakal, cenderung bertahan melampaui masa remaja.Dalam bagian ini dijelaskan bahwa, kenakalan remaja dipengaruhi oleh pergaulan yang dilakukan oleh teman sebaya.pengaruh kelompok teman sebaya di Indonesia hal koneksi seseorang ke grup. Ketika seseorang secara langsung terlibat dengan kelompok dan anggotanya, sangat populer di kalangan anggota kelompok, dan ketika anggota kelompok sering berinteraksi, maka kenakalan lebih mungkin terjadi. terjadi. Jadi, sekali lagi, sehubungan dengan kenakalan, bukan hanya apakah seseorang bergaul dengan rekan-rekan yang nakal tetapi sifat dan kualitas asosiasi teman sebaya yang tampaknya penting. Konseptualisasi hubungan teman sebaya dengan cara ini menyediakan sebuah penjelasan mengapa kenakalan dimulai dan berlanjut, begitu juga untuk mengapa cenderung menurun pada remaja akhir.
PENYIMPANGAN DAN KENAKALAN
Asumsikhusus:
Konsep penyimpangan oleh Matza memberikan banyak asumsi yang ditemukan pada teori diferensial asosiation. Konsep perbedaannya antara dua teori adalah penyimpangan mengasumsikan bahwa kenakalan sebagian besar didasarkan pada latihan dari pilihan remaja yang di dorong oleh situasi atau keadaan di momen tertentu.Pentingnya penilaian individu pada teori ini berbeda dengan teori kenakalan lainnya, yang menekankan deterministic, individualistic, atau lingkungan pada perilaku remaja.  Asumsi lainnya dari teori penyimpangan, cenderung memisahkan dari diferensial asosiation, yaitu bahwa para pelaku kenakalan marah karena ketidakadilan yang merekarasakan dari praktik penegakan hukum yang diskriminatif dan reaksi masyarakat mengenai perilaku buruk mereka. Dengan kata lain bahwa pelaku kenakalan secara psikologis merasa terasingkan darimasyarakat.
Konsepkunci: Penyimpangan: konsep penyimpangan menegaskan bahwa perilaku nakal dan perilaku taat hokum keduanya adalah karakteristik dari kenakalan. Remaja melakukan penyimpangan tergantung dari situasi dan suasana hati atau perasaan mereka. Mereka tidak memiliki komitmen dalam kenakalan.
Penetralan: factor utama dalam melakukan tindakan kenakalan adalah kemampuan remaja untuk menetralkan, atau menjelaskan, pemahaman moral yang dirasakan terkait dengan tindakan.
Diskusi Matza
·         Kenakalan dilihat dari situasi atau keadaan tertentu.
·         Remaja melakukan kenakalan karena sifat waktu, tempat dan latar belakang yang mendorong tindakan tersebut.
·         Perlawanan dari aturan orang dewasa akan diekspresikan dalam bentuk kenakalan.
·         Kenakalan ditandai sebagai pergeseran yaitu kenakalan dilihat sebagai hasil keseimbangan remaja seperti : (1) antara harapan yang sesuai dengan orang dewasa dan teman sebaya yang mendominasi karena ada peluang atau keuntungan situasional (2) kenakalan dipandang oleh remaja sebagai sesuatu yang tepat untuk dilakukan saat ini (pada masanya).
·         Terdapat teknik netralisasi menurut Skyes dan Matza terdiri dari 5 jenis yaitu : (1) penolakan tanggung jawab, dimana remaja tidak menerima kesalahannya namun menghubungkan dengan hal lain seperti kemiskinan (2) penolakan luka atau kerusakan, dimana remaja tidak menyangkal tindakan tetapi mempertahankan bahwa tidak ada yang benar-benar terluka secara fisik atau secara ekonomi dirugikan (3) penyangkalan terhadap seorang korban, dimana kerusakan atau luka yang disebabkan oleh tindakan itu dirasakan layak karena "korban" layak mendapatkannya, seperti mencuri dari pemilik toko "yang tidak jujur" (4) kecaman terhadap kecaman, yang melibatkan pandangan untuk menolak orang lain sebagai orang munafik dan penyimpangan tersembunyi, pandangan yang terkadang menjadi sinis terhadap figur otoritas, seperti polisi dan pejabat sekolah (5) menarik loyalitas yang lebih tinggi, yang berpendapat bahwa tuntutan dalam kelompok lebih diutamakan daripada kekeluargaan, masyarakat atau nilai-nilai dan aturan-aturan masyarakat, dan bahwa tuntutan kelompok ini terkadang menyerukan pelaksanaan tindakan kenakalan.
·         Karya Matza (1964) berimplikasi pada kurangnya pengawasan keluarga dalam pengembangan teknik netralisasi, tetapi lebih tegas menunjukkan peran pengaturan sosial yang didominasi rekan sebaya atas pembenaran kenakalan tersebut.
·         Menurut Matza bahwa mereka rentan terhadap pengaruh yang sesuai dari orang dewasa dan pengaruh buruk dari tekanan teman sebaya. Peluang untuk kenakalan muncul dari konteks situasional. Peluang-peluang ini dapat mengasumsikan lebih penting bagi seorang remaja ketika ia telah menetapkan seperangkat justifikasi (pembenaran).

 Evaluasi teori penyimpangan dan kenakalan:
   Teori penyimpangan mengasumsikan bahwa remaja hidup dalam keadaan fluks dan ketidakpastian.  Asumsi implisit teori penyimpangan Matza adalah bahwa kenakalan akan menurun saat remaja mendekati kedewasaan. Ini adalah masalah yang sangat terlibat dan itu pasti dipengaruhi oleh efek dari intervensi resmi dan upaya perawatan pada bagian masyarakat dalam upaya untuk "mereformasi" kenakalan. Tentu saja anggota geng cenderung untuk memisahkan diri dari geng sebagai pendekatan kedewasaan, dan kenakalan, geng atau sebaliknya, tidak menurun dengan status usia lanjut, melalui pernikahan, pekerjaan, atau mungkin pematangan umum.
   Kesulitan dengan teori Matza terletak pada fokusnya pada motivasi dan niat psikologis mengenai perilaku. baik sebelum dan sesudah bertindak. Dalam hal ini, teori penyimpangan dari Matza berbagi kesulitan yang sama seperti teori hubungan diferensial Sutherland yaitu, penilaian keadaan pikiran sebelumnya dari sudut pandang yang jauh dari tindakan suatu tindakan.
   Konseptualisasi Matza tentang remaja yang nakal menggambarkan individu yang agak bebas mengambang yang sedang diterpa oleh berbagai pengaruh. Teori penyimpangan sebenarnya adalah tipe teori kontrol sosial dari kenakalan, di mana kenakalan terlihat sebagai relatif tidak terikat atau tidak terikat dengan institusi sosial konvensional dan kelompok sebaya. Sebagai contoh, teori penyimpangan mengusulkan bahwa remaja dapat mengalami kemunduran pada waktu tertentu. Namun, ia tidak menyediakan akun sistematis, tentang mengapa kenakalan didefinisikan sebagai diterima oleh kelompok atau individu. Teori kontrol sosial berargumen bahwa kenakalan terjadi pada perkembangan antar remaja dan perwakilan institusi-institusi yang begitu penting, seperti orang tua dan otoritas sekolah. Anak-anak yang tidak terikat lebih cenderung tertarik pada kenakalan daripada yang lain. Mereka yang "menyimpang" ke dalam kenakalan adalah mereka yang secara relatip lebih kecewa dengan institusi tradisional di masyarakat.
KESIMPULAN
Diferensial association dan penyimpangan sebagai penjelasan  tentang kenakalan berbeda dari penjelasan sebelumnya bahwa mereka pada dasarnya bersifat psikologis. Artinya, penyebab utama kenakalan terletak pada dalam diri, tetapi tidak dalam dirinya. Teori-teori ini membahas bahwa individu melakukan tindakan kenakalan, mereka mengatakan terdapat faktor sosial yang mendorong individu untuk melakukan tindakan kenakalan. Selanjutnya individu atau kelompok yang mempengaruhi signifikan adalah orang yang berarti dalam hidupnya, seperti teman sebaya, dan figure otoritas.
Dalam teori diferensial asosiation oleh Sutherland adalah pengaruh dari orang lainmerupakan dorongan yang signifikan pada remaja untuk melakukan kenakalan. Menurut Matza dalam teori penyimpangannya pengaruh orang lain yang signifikan dapat berupa dorongan yang sebenarnya dari dari kenakalan atau kontribusi tidak langsung terhadap kenakalan melalui pengembangan kekesalan figur otoritas.
Kedua teori mencoba untuk menyediakan hubungan yang luas, efek yang ditentukan dari kelas sosial dan struktur sosial dan atomistik, konseptualisasi yang terlalu deterministik tentang teori-teori biologis dan psikologis kenakalan, seperti interpretasi psikoanalitik. Mereka memberi kontribusi pada penjelasan tentang kenakalan.
Dari dua teori itu, asosiasi diferensial disajikan dengan cara yang lebih teliti, dan telah diteliti lebih teliti daripada teori hanyut Matza. Meskipun begitu, sepertinya kedua penjelasan itu mencoba menjelaskan juga banyak dengan mencoba menjelaskan tingkah laku manusia dari sudut pandang terbuka dan situasional.
Kedua asosiasi diferensial dan penyimpangan tampaknya berupaya untuk memahami penyebab langsung dari kenakalan. teori-teori ini akan ditingkatkan oleh keberadaan melekat pada entitas sosial yang lebih terukur dan tetap, sebagai lawan secara luas mengandung faktor-faktor kemasyarakatan. Jenis pondasi ini mungkin yang terbaik digunakan oleh teori kontrol, terutama teori kontrol sosial,  kenakalan.

(Materi) Teori Differential Association

Teori Differential Association Hellow guys welcome to my blog, nah di blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang Differ...