Selasa, 19 Juni 2018

(MATERI) Teori Anomi Sosiologi Perilaku Manyimpang



Teori Anomi Sosiologi Perilaku Manyimpang 

Haii welcome to my blog.  Di blog ini saya akan mereview teori pada mata kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang yang membahas mengenai Teori Anomi pada sosiologi perilaku menyimpang.
Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak perubahan sosial.Dalam penelitian itu ia dengan sangat  baik memberikan gambaran mengenai konsep anomi.
Anomie mengacu pada  hancurnya norma-norma saosial, ketika norma tidak lagi mengontrol tindakan anggota masyarakat. Individu-individu  tidak dapat menemukan kedudukan  dan mereka dalam masyarakat. Mereka juga tak dapat menemukan aturan-aturan jelas yang membantu mengarahkan mereka. Kondisi yang berubah itu mengarah pada ketidak puasan, konflik, dan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1938, Robert K. Merton mengadopsi konsep anomie Emile Durkheim untuk menjelaskan deviasi di Amerika. Konsepsi Merton ini sebenarnya dipengaruhi intelectual heritage (kondisi intelektual) Pitirin A.Sorokin (1928) dalam bukunya Contemporary Sociological Theories dan Talcot Parsons (1937) dalam buku The Structure of Social Action. Menurut Robert K. Merton, konsep anomie diredefinisi sebagai ketidaksesuaian atau timbulnya diskrepansi/perbedaan antara cultural goals dan institutional means sebagai akibat cara masyarakat diatur (struktur masyarakat) karena adanya pembagian kelas. Karena itu, menurut John Hagan, teori anomie Robert K. Merton berorientasi pada kelas.
Teori anomie Robert K. Merton pada mulanya mendeskripsikan korelasi antara perilaku delinkuen dengan tahapan tertentu pada struktur sosial akan menimbulkan, melahirkan dan menumbuhkan suatu kondisi terhadap pelanggaran norma masyarakat yang merupakan reaksi normal. Untuk itu, ada dua unsur bentuk perilaku delinkuen yaitu unsur dari struktur sosial dan kultural. Konkritnya, unsur kultur melahirkan goals dan unsur struktural melahirkan means .
Munculnya keadaan anomi, oleh Merton diilustrasikan sebagai berikut (Elly M.Setiadi, 2011):
1.      Masyarakat industri modern lebih mementingkan pencapaian kesuksesan materi yang diwujudkan dalam bentuk kemakmuran atau kekayaan dan pendidikan yang tinggi.
2.      Apabila hal tersebut tercapai, maka mereka dinggap sebagai orang yang telah mencapai tujuan-tujuan status atau cultural (cultural golds) yang dicita-citakan oleh masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut, ternyata harus melalui akses atau cara kelembagaan yang sah.
3.      Namun ternyata, akses kelembagaan yang sah jumlahnya tidak dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama lapisan masyarakat bawah.
4.      Akibat dari keterbatasan akses tersebut, maka muncul situasi anomi, yaitu: situasi di mana tidak ada titik temu antara tujuan-tujuan status/kultural dan cara-cara yang sah yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
5.      Dengan demikian, anomi adalah keadaan atau nama dari situasi di mana kondisi sosial/situasi masyarakat lebih menekankan pentingnya tujuan-tujuan status, tetapi cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut jumlahnya sedikit.
Dalam perkembangan berikutnya, pengertian anomie mengalami perubahan dengan adanya pembagian tujuan-tujuan dan sarana-sarana dalam masyarakat yang terstruktur. Misalnya, adanya perbedaan-perbedaan kelas-kelas sosial yang menimbulkan adanya perbedaan tujuan-tujuan dan sarana yang tersedia
Contoh kasus nyata dalam kehidupan sehari-hari mengenai anomi (anomie) misalnya saja perilaku menyimpang, seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang mana prilaku tersebut pada hekaktnya sudah dinyatakan  terlarang, lantaran prilaku ini tidak hanya merugikan pada diri sendiri akan tetapi merugikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dampak yang ditimbulkan dari kondisi ini adalah kepercayaan dan melunturkan budaya malu diri sendiri, selain itu juga merugikan banyak pihak yang harus bersusah payah karena prilaku salah seorang pejabat. Kasus ini di gambaran dalam tindakan Kerupsi E-KTP yang berjalan di Indonesia, E-KTP bukan hanya merugikan masyarakat secara umum, akan tetapi kondisi ini merugikan kepercayaan yang dari anggota dewan untuk memenang amanah rakyat.
Oleh karena itulah dalam ciri khas dalam tindakan atau prilaku yang tergolong bentuk anomi (anomie) ini antara lain adalah sebagai berikut;
  1. Pemberontakan, yaitu perbutan yang dilakukan oleh seseorang secara individu atau kelompok orang untuk menolak sarana dan tujuan-tujuan, yang mana sara dan tujuan tersebut disahkan oleh masyarakatnya secara legal dan malah memilih untuk menggantinya dengan cara baru. Contohnya, pemberontakan yang dilakukan di Papua dengan menamakan diri sebagai OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang terus menerus melakukan pemberontakan pada pemerintahan yang sah, yakni NKRI.
  2. Ritualisme, adalah tindakan yang dijalankan oleh seseorang secara konvensional, akan tetapi dari tindakan tersebut melupakan tujuan yang sebenarnya ada. Cara-cara yang dilakukan bahwa tetap menjadi kebiasaan akan tetapi yang perlu diingat fungsi dan maknanya sudah hilang. Contohnya, banyak siswa di lingkungan pendidikan yang tertib mengikuti upacara bendera hanya sekadar untuk ikut peraturan sekolah dan bukan untuk semangat nasionalisme.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(Materi) Teori Differential Association

Teori Differential Association Hellow guys welcome to my blog, nah di blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang Differ...