Jumat, 22 Desember 2017

Dinamika Sekolah Agama non formal Berbasis Kurikulum

Dinamika Sekolah Agama non formal Berbasis Kurikulum
Studi kasus: Paroki Santa Maria Regina, Bintaro

Minarni, Novianti, Shofiyyan Mujib, Sita Awalia Saputri

Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dinamika sekolah agama non formal berbasis kurikulum. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara dan juga sumber data sekunder (dari jurnal,buku lainnya).  Pembelajaran di Paroki Santa Maria Regina ini merupakan suatu pelayanan untuk anak-anak yang membutuhkan nilai agama Katolik yang tidak diajarkan di sekolah formal. Sekolah agama non formal berbasis kurikulum berada dibawah pengawasan Kementrian Agama di wilayah Banten. Kurikulum menjadi pedoman Paroki Santa Maria Regina untuk mencapai tujuan pembelajaran namun memiliki kendala dalam keterbatasan pengajar.

Kata Kunci: Kurikulum, Pembelajaran, Agama Katolik

Latar Belakang
Paroki Santa Maria Regina merupakan tempat beribadah umat Katolik dan juga wujud dari sekolah agama non formal berbasis kurikulum. Tidak hanya untuk tempat beribadah, Paroki Santa Maria Regina merupakan wadah untuk belajar agama Katolik tetapi secara terstruktur yaitu dengan adanya kurikulum. Kurikulum dapat dipahami sebagai sebuah jalan untuk mempersiapkan murid untuk peran masa depan mereka dalam masyarakat industri baru.[1] Lalu dengan adanya kurikulum, Paroki Santa Maria Regina menjadi bagian dari pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.[2] Sekolah ini merupakan sekolah non formal yakni pelayanan untuk anak-anak yang beragama Katolik yang tidak dapat pelajaran agama Katolik di sekolahnya. Anak-anak tersebut memerlukan nilai sehingga Paroki Santa Maria Regina pun tidak memberikan nilai secara cuma-cuma tetapi dengan belajar disetiap minggunya, yaitu hanya pada hari minggu. Paroki Santa Maria Regina memberikan nilai ke sekolah mereka masing-masing untuk mendapatkan nilai agama Katolik. Siswa yang belajar disini rentangnya yaitu SD-SMA. Salah satunya di tingkat SMA, siswa SMA ini berasal dari regional sekitar gereja. Setiap tahunnya siswa SMA yang tidak mendapatkan mata pelajaran agama Katolik pasti belajar di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka hanya yang membutuhkan nilai untuk di sekolah formalnya saja, hanya beberapa umat Katolik yang benar-benar ikut belajar tanpa mencari nilai.
Sistematika Penulisan
Secara garis tulisan ini terbagi menjadi beberapa bagian.  Pertama, pengantar yang dapat memberi gambaran umum dari keseluruhan isi tulisan dan juga tujuan dari penulisan. Kedua, menjelaskan tentang sejarah dan profil dari Paroki Santa Maria Regina yang didalamnya mencakup berbagai hal.  Ketiga, bagian ini menjelaskan mengenai kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis hasil temuan lapangan.  Keempat, menjelaskan mengenai kurikulum dalam pelayanan agama Katolik. Kelima, menjelaskan mengenai permasalahan dalam pola pembelajaran agama Katolik. Keenam, di bagian penutup dijelaskan mengenai kesimpulan dari keseluruhan isi dari bagian – bagian sebelumnya.
Data dalam tulisan ini diperoleh dari wawancara langsung dengan narasumber terkait, seperti Koordinator Sub Sie Persink yaitu Anastasia Dwi Respati S. Selain itu data sekunder sebagai data pendukung diambil dari berbagai sumber media elektronik seperti artikel (berita, jurnal, skripsi) yang dimuat dari berbagai situs internet,  serta buku bacaan. Dengan demikian data tersebut dapat mempertajam analisa dalam pembuatan tulisan ini.
Sejarah Paroki Santa Maria Regina
Stasi Santa Maria Regina ditetapkan sebagai Paroki Santa Maria Regina oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Pr dalam Perayaan Ekaristi yang dihadiri umat Santa Maria Regina (SanMaRe) pada hari Minggu, 22 Agustus 2010. Paroki Santa Maria Regina terletak di Jl. MH. Thamrin kav. B2 No. 03 CBD Bintaro Jaya Sektor 7, Tangerang Selatan 15224.
Gambar 1
Paroki Santa Maria Regina
                             Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)
Paroki Santa Maria Regina ini disebut juga sebagai pelayanan non formal berbasis kurikulum yang berisi pelajaran agama Katolik. Kegiatan pembelajaran yang di lakukan setelah kegiatan kebaktian umat kristiani yaitu misa, pukul 11.00 - 13.00 setiap hari minggu. Paroki Santa Maria Regina berada dibawah pengawasan Kementrian Agama di wilayah Banten. Kegiatan pembelajaran di paroki pada tahun 2011, 1 tahun setelah Gereja Santa Maria Regina di bangun.
Anastasia Dwi Respati S adalah salah satu pengajar dan Koordinator Sub Sie Persink di Paroki Santa Maria Regina. Dwi lahir di Jakarta, 30 September 1964. Ia mengajar di pelayanan non formal berbasis kurikulum ini sejak berdirinya Paroki Santa Maria Regina tahun 2011 lalu. Dwi merupakan Guru honorer di SMA Negeri 86 selama 28 tahun. Namun ia memiliki akta 4 Spesialisasi Agama  sehingga Dwi mengajar tentang pembelajaran agama Katolik di SMA N 86 dengan jumlah peserta didik 2-3 orang.
Gambar 2
Pengajar Paroki Santa Maria Regina
                               Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Ketertarikan Dwi mengajar di Paroki Santa Maria Regina berawal dari keprihatinan akan anak – anak yang kurang pembelajaran agama Katolik di sekolahnya baik sekolah negeri maupun swasta. Peserta didiknya beragam mulai dari SD hingga SMA dengan jumlah yang sangat sedikit.
Tinjauan Teoritik
Kurikulum merupakan sebuah rencana umum tentang isi atau materi tertentu dari instruksi bahwa sekolah harus memenuhi kualifikasi atau sertifikasi serta dapat melanjutkan bidang profesional kejuruan.[3] Kurikulum dalam pendidikan  mempunyai peranan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu befikir secara kritis. Untuk mengembangkan kemampuan berfikir yang kritis dibutuhkan model pembelajaran yang partisipatif. Pemikirian perspektif struktural fungsional mempunyai tujuan bahwa pendidikan dan kurikulum adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran[4]. Menurut Durkheim pendidikan sebagai pemegang peran dalam proses sosialisasi atau homogenisasi, seleksi atau heterogenisasi, dan alokasi serta distribusi peran-peran sosial, yang berakibat jauh pada struktur sosial yaitu distribusi peran-peran dalam masyarakat.
Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajar formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.[5] Adapun Sekolah non formal merupakan Jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Menurut UU Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Dalam PP tersebut pasal (1) menjelaskan bahwa pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.[6]
Kurikulum Dalam Agama Katolik
Kurikulum sekolah adalah muatan proses, baik formal maupun informal yang  diperuntukkan bagi pelajar untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman, mengembangkan keahlian dan mengubah apresiasi sikap dan nilai dengan bantuan sekolah. Sedangkan Maurice Dulton mengatakan “Kurikulum dipahami sebagai pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh pembelajar di bawah naungan sekolah”.[7]
Proses pembelajaran di gereja santa maria regina ini merupakan suatu pelayanan untuk anak-anak yang membutuhkan nilai agama Katolik yang tidak diajarkan disekolah. Dan di gereja santa maria regina ini merupakan pelayanan non formal berbasis kurikulum. Pelajaran agama Katolik yang dinaungi oleh Kementerian Agama.  Bimbingan  belajar bagi anak-anak sekolah negeri maupun swasta yang tidak mendapatkan nilai yang terdapat disekolah.
“Pelayanan di gereja santa maria regina ini berbasis kurikulum di gereja ini memiliki format nilai, soal, silabus, buku absen dan buku pelajaran seperti sekolah. Kurikulumnya dibuat oleh kementerian agama, yaitu persatuan gereja di jakarta dinamakan konfensi wali gereja indonesia. Dan materi pembelajarannya sudah tersusun rapi.”[8]
Tabel I.
Perbandingan Materi Pembelajaran
Kelas
Alokasi Waktu
Materi
10
11.00-12.30
3 @ 45menit

1.     Manusia,Pribadi yang Unik
2.     Mengembangkan karunia Allah
3.     Kesetaraan laki-laki dan perempuan
4.     Keluhuran Manusia sebagaiCitra Allah
5.     Suara Hati
6.     Bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh Media Massa
7.     Bersikap Kritis Terhadap Ideologi dan Gaya Hidup yang Berkembang Dewasa ini
8.     Kitab Suci Perjanjian Lama
9.     Kitab Suci Perjanjian Baru
10.  Tradisi
11.  Gambaran Kerajaan Allah pada zaman Yesus
12.   Yesus Mewartakan Kerajaan Allah
13.  Sengsara dan Wafat Yesus
14.  Yesus Kristus sebagai sahabat sejati,tokoh idola
15.  Yesus Putra Allah dan Juru Selamat
16.  Tri Tunggal Maha Kudus
17.  Peran Roh Kudus bagi Gereja
11
11.00-12.30
3 @ 45menit

1.     Gereja sebagai Umat Allah
2.     Gereja sebagai Persekutuan Yang Terbuka
3.     Gereja yang Satu
4.     Gereja yang Kudus
5.     Gereja yang Katolik
6.     Gereja yang Apostolk
7.     Hierarki dalam Gereja Katolik
8.     Kaum Awam dalam Gereja Katolik
9.     Gereja yang Mengkuduskan
10.  Gereja yang Mewartakan
11.  Gereja yang Bersaksi
12.  Gereja yang membangun persekutuan
13.  Gereja yang melayani
14.  Permasalahan yang Dihadapi Dunia
15.  Hubungan Gereja dengan Dunia
16.  Ajaran Sosial Gereja
17.  Hak Asasi Manusia
18.  Hak Asasi Manusia dalam Terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja
19.  BudayaKekerasan versus Budaya Kasih
20.  Aborsi
12
11.00-12.30
3 @ 45menit

1.     Panggilan Hidup Berkeluarga
2.     Perkawinan dalam tradisi Gereja Katolik
3.     Tantangan dan peluang untuk membangun keluarga yang dicita-citakan
4.     Panggilan hidup membiara
5.     Panggilan karya atau profesi
6.     Nilai-nilai penting dalam masyarakat yang diperjuangkan
7.     Landasan untuk memperjuangkan nilai penting dalam masyarakat
8.     Yesus Kristus pejuang Keadilan, Kebenaran , Kejujuran dan Kedamaian
9.     Keberagaman sebagai realitas asal kehidupan manusia
10.  Mengupayakan perdamaian dan persatuan bangsa
11.  Memahami kekhasan agama-agama di Indonesia
12.  Dialog antar umat beragama dan kepercayaan lain
13.  Membangun persaudaraan sejati dengan menjalin kerja sama antar umat beragama
14.  Membangun bangsa dan negara yang dikehendaki tuhan
15.  Tantangan dan peluang umat Katolik dalam membangun Bangsa dan Negara seperti yang dikehendaki Tuhan
16.  Dasar Keterpanggilan Gereja dalam membangun Bangsa dan Negara
Sumber: Silabus Paroki Santa Maria Regina (2017)
Gambar 3
Buku Pelajaran Agama Katolik
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2017)

Buku pelajaran yang digunakan oleh pelayanan di gereja santa maria regina ini sama seperti buku yang digunakan oleh sekolah formal lainnya. Karena mereka menggunakan kurikulum seperti yang dilakukan oleh sekolah. Hanya saja bedanya di paroki ini jam belajarnya hanya hari minggu. Gereja ini siap melayani siapa saja yang ingin lebih dalam mempelajari agama Katolik lebih dalam dan juga siap memberikan nilai kepada sekolah yang memintanya, tetapi pemberian penilaiannya tidak secara cuma-cuma tetapi para siswanya harus datang ke gereja setiap minggunya untuk belajar.
Permasalahan Pada Pelayanan Agama Berbasis Kurikulum
Kegiatan yang ada pada paroki santa maria regina bukan hanya yang berkaitan dengan agama saja, namun juga kesehatan berupa klinik umum bagi masyarakat dan juga pendidikan. Pendidikan yang berlangsung di paroki santa maria regina adalah pelayanan  pendidikan agama berbasis kurikulum bagi umat Katolik yang di sekolah tempat mereka belajar  tidak ada pelajaran Katolik.  Sekolah pun jika memang diperlukan dapat meminta nilai untuk pelajaran agama Katolik untuk para muridnya, namun bagi murid yang ingin mendapatkan nilai tidak dapat diberi secara cuma-cuma, melainkan dengan cara datang  dan belajar ke pelayanan dengan rutin. Dwi mengatakan bahwa walaupun ini merupakan pendidikan non formal, tetapi tetap berbasis kurikulum. Pelayanan ini pun masih bernaung pada Kementerian Agama dan BINMAS Serang.
“Pelayanan disini untuk para anak-anak yang di sekolahnya tidak ada pelajaran Katolik, karena banyak sekolah yang tidak ada guru dan mata pelajaran Katolik, biasanya hanya ada kristen saja. jadi banyak murid yang ingin belajar tentang agama Katolik datang kesini, jika sekolah ingin meminta nilai pun bisa juga, namun murid harus rajin datang kesini. Walaupun ini tergolong pendidikan non formal, tapi tetap berbasis kurikulum.”[9]
Layanan pendidikan agama berbasis kurikulum ini dibuka pada tahun 2011, setahun setelah dibangunnya paroki santa maria regina itu sendiri. Dibukanya layanan ini berawal dari rasa prihatin akan anak-anak yang tidak mendapat pelajaran sekolah Katolik, baik di sekolah negeri maupun swasta. Dan juga agar para anak-anak umat Katolik dapat mengenal dan mempelajari agamanya sendiri.
“layanan pendidikan agama berbasis kurikulum ini dibuka pada tahun 2011, paroki ini dibangun pada tahun 2010, jadi setahun setelah paroki ini dibangun. Awal dari ingin dibukanya layanan ini adalah rasa prihatin akan anak-anak yang tidak mendapat pelajaran sekolah Katolik, baik di sekolah negeri maupun swasta. Lalu agar anak-anak dapat mengenal agamanya sendiri.”[10]




Gambar 4
Metode Pembelajaran Pada Pelayanan Pendidikan Agama
Sumber: Dokumentasi pribadi (2017)
Metode pembelajaran yang digunakan pada pelayanan pendidikan agama disini adalah metode ceramah. Metode ceramah adalah penerangan dan penututan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dengan kata lain dapat pula dimaksudkan, bahwa metode ceramah atau lecturing itu adalah suatu cara penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswanya.[11]
Dalam berjalannya kegiatan layanan pendidikan agama ini juga menemukan beberapa masalah, seperti kurangnya guru yang mengajar disini. Kegiatan pelayanan pendidikan agama disini ada untuk berbagai kelas, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Tiap 1 guru mengajar 1 kelas, dan cara pembelajarannya pun dengan cara duduk melingkar antara murid dan guru lalu memberikan materi. Jadi, harusnya guru yang mengajar disini berjumlah 12 yatu sesuai dengan jumlah kelas dari SD hingga SMA, namun di layanan pendidikan agama disini hanya memiliki 10 pengajar, sehingga kurang 2 pengajar.
“Disini menerima murid dari berbagai kelas, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Tapi kami hanya ada 10 pengajar saja, 2 pengajar tidak ada.”[12]
Masih tentang tenaga pengajar, ternyata para pengajar disini pun banyak yang tidak berlatar belakang lulusan pendidik. Jadi, terkadang kesulitan dalam hal penyesuaian dengan para pengajar yang memiliki latar belakang pendidik, karena yang berlatar pendidik lebih rapi dalam menyusun materi dan lain-lain. Para guru pun sedikit yang tertarik dengan pekerjaan sukarela seperti ini.
Para murid sekolah yang beragama Katolik pun masih jarang yang berminat untuk ikut layanan pendidikan agama berbasis kurikulum disini karena menurut Dwi, hari minggu merupakan hari yang biasanya digunakan untuk senang-senang sehingga hanya sedikit murid yang rela mengorbankan hari minggunya demi mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Menurut Dalyono, salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah faktor internal yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. [13] dalam kasus diatas, faktor yang mempengaruhi siswa adalah faktor internal yang berupa kurangnya minat dan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar di pelayanan pendidikan agama tersebut yang berlangsung pada hari minggu. Hal diatas mengakibatkan sedikitnya anak yang mengikuti layanan pendidikan agama di paroki santa maria regina.
Total murid yang mengikuti layanan pendidikan disini dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas hanya sekitar 30 murid, tiap tahun murid baru yang masuk hanya sekitar 25 atau 30 orang saja. sedangkan targetnya adalah 300 orang. Agar dapat mencapai target tersebut, para pengurus paroki melakukan berbagai usaha agar target tersebut dapat tercapai. Seperti menyebarkan selembaran tentang pelayanan pendidikan agama tersebut dari gereja ke gereja, lalu kegiatan pelayanan dilakukan sehabis Misa agar dapat dibarengi dengan ibadah wajib.
Penutup
Dengan adanya paroki santa maria regina ini mengenai pelayanan agama berbasis kurikulum dapat membantu murid yang kurang akan pelajaran agama Katolik di sekolah negeri maupun swasta dapat menambah wawasan dalam pembelajaran di paroki santa maria regina, selain itu proses hasil belajar murid dapat diberikan kepada pihak sekolah untuk membantu nilai tugas mengenai agama Katolik di sekolahnya. Kegiatan pelayanan pendidikan agama disini pun tersusun dengan rapi karena berbasis kurikulum. Dalam hal pembelajaran pun layaknya sekolah, karena memiliki format nilai dan soal, silabus, buku absen dan buku pelajaran. Kurikulumnya pun dibuat langsung oleh kementrian agama. Namun, dalam berjalannya kegiatan disini tak lepas dari berbagai permasalahan. Seperti jumlah pengajar yang kurang memadai dan rendahnya minat anak-anak sekolah untuk mengikuti pelayanan pendidikan agama disini karena diadakan pada hari minggu yang biasanya pada hari itu digunakan untuk santai di rumah. Walaupun begitu, pelayanan pendidikan agama di Paroki Santa Maria Regina tetap berlangsung dengan sumber daya yang tersedia dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Skema 1
Relasi kurikulum pada pelayanan agama Katolik
            Sumber: Hasil Lapangan (2017)
                       



DAFTAR PUSTAKA

 

Dalyono. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Hidayat, Rakhmat. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Latief, Ruslan. Cara belajar siswa aktif. Padang: Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, 1985.
Mudlofir, Ali. Aplikasi pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan bahan ajar dalam pendidikan agama islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012.
Soelaman, Joersoef. Konsep dasar pendidikan non formal. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Sunarto. Ice Breaker dalam pembelajaran aktif. Jakarta: Cakrawala Media, 1993.
Kelembagaan.ristekdikti.go.id diakses pada tanggal 17 april 2017. Pukul 20.00 WIB




[1] Hidayat Rakhmat.2011. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers. hlm. 7
[2] kelembagaan.ristekdikti.go.id
[3]Op.Cit. hlm 8.
[4] Sunarto. 1993. Ice Breaker Dalam Pembelajaran Aktif. Jakarta: Cakrawala Media. hlm.22
[5] Soelaman Joesoef. 1992. Konsep Dasar Pendidikan non formal. Jakarta: Bumi Aksara. hlm 50.
[6] kelembagaan.ristekdikti.go.id
[7] Ali Mudlofir.2012. Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dan Bahan Ajar
Dalam Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.hlm 1-2.
[8] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.01
[9] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.05
[10] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.18
[11] Ruslan Latief.1985.Cara Belajar siswa Aktif. Padang: Fakultas Tarbiyah IAIN Iman Bonjol.hlm.16
[12] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.23
[13] Dalyono. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hlm. 27

(Materi) Teori Differential Association

Teori Differential Association Hellow guys welcome to my blog, nah di blog kali ini kita akan membahas mengenai teori tentang Differ...