Dinamika Sekolah Agama non formal Berbasis Kurikulum
Studi
kasus: Paroki Santa Maria Regina, Bintaro
Minarni, Novianti, Shofiyyan Mujib, Sita
Awalia Saputri
Abstrak
Penelitian ini
dilakukan untuk mendeskripsikan dinamika sekolah agama non formal berbasis
kurikulum. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan
menggunakan teknik wawancara dan juga sumber data sekunder (dari jurnal,buku
lainnya). Pembelajaran di Paroki Santa
Maria Regina ini merupakan suatu pelayanan untuk anak-anak yang membutuhkan
nilai agama Katolik yang tidak diajarkan di sekolah formal. Sekolah agama non
formal berbasis kurikulum berada dibawah pengawasan Kementrian Agama di wilayah
Banten. Kurikulum menjadi pedoman Paroki Santa Maria Regina untuk mencapai
tujuan pembelajaran namun memiliki kendala dalam keterbatasan pengajar.
Kata Kunci: Kurikulum,
Pembelajaran, Agama Katolik
Latar
Belakang
Paroki
Santa Maria Regina merupakan tempat beribadah umat Katolik dan juga wujud dari sekolah
agama non formal berbasis kurikulum. Tidak hanya untuk tempat beribadah, Paroki
Santa Maria Regina merupakan wadah untuk belajar agama Katolik tetapi secara terstruktur
yaitu dengan adanya kurikulum. Kurikulum dapat dipahami sebagai sebuah jalan
untuk mempersiapkan murid untuk peran masa depan mereka dalam masyarakat
industri baru.[1]
Lalu dengan adanya kurikulum, Paroki Santa Maria Regina menjadi bagian dari
pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan
peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan
pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan
mengamalkan ajaran agamanya.[2]
Sekolah ini merupakan sekolah non formal yakni pelayanan untuk anak-anak yang
beragama Katolik yang
tidak dapat pelajaran agama Katolik di
sekolahnya. Anak-anak tersebut memerlukan nilai sehingga Paroki Santa Maria
Regina pun tidak memberikan nilai secara cuma-cuma tetapi dengan belajar
disetiap minggunya, yaitu hanya pada hari minggu. Paroki Santa Maria Regina
memberikan nilai ke sekolah mereka masing-masing untuk mendapatkan nilai agama Katolik. Siswa yang belajar disini
rentangnya yaitu SD-SMA. Salah satunya di tingkat SMA, siswa SMA ini berasal
dari regional sekitar gereja. Setiap tahunnya siswa SMA yang tidak mendapatkan
mata pelajaran agama Katolik
pasti belajar di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka hanya yang membutuhkan
nilai untuk di sekolah formalnya saja, hanya beberapa umat Katolik yang benar-benar ikut
belajar tanpa mencari nilai.
Sistematika Penulisan
Secara
garis tulisan ini terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama,
pengantar yang dapat memberi gambaran umum dari keseluruhan isi tulisan dan
juga tujuan dari penulisan. Kedua,
menjelaskan tentang sejarah dan profil dari Paroki Santa Maria Regina yang
didalamnya mencakup berbagai hal. Ketiga, bagian ini menjelaskan mengenai
kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis hasil temuan lapangan. Keempat,
menjelaskan mengenai kurikulum dalam pelayanan agama Katolik. Kelima, menjelaskan mengenai
permasalahan dalam pola pembelajaran agama Katolik. Keenam, di bagian penutup dijelaskan mengenai kesimpulan dari
keseluruhan isi dari bagian – bagian sebelumnya.
Data
dalam tulisan ini diperoleh dari wawancara langsung dengan narasumber terkait,
seperti Koordinator Sub Sie Persink yaitu Anastasia Dwi Respati S. Selain itu
data sekunder sebagai data pendukung diambil dari berbagai sumber media
elektronik seperti artikel (berita, jurnal, skripsi) yang dimuat dari berbagai
situs internet, serta buku bacaan.
Dengan demikian data tersebut dapat mempertajam analisa dalam pembuatan tulisan
ini.
Sejarah Paroki Santa
Maria Regina
Stasi
Santa Maria Regina ditetapkan sebagai Paroki Santa Maria Regina oleh Uskup
Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Pr dalam Perayaan Ekaristi yang dihadiri
umat Santa Maria Regina (SanMaRe) pada hari Minggu, 22 Agustus 2010. Paroki
Santa Maria Regina terletak di Jl. MH. Thamrin kav. B2 No. 03 CBD Bintaro Jaya
Sektor 7, Tangerang Selatan 15224.
Gambar 1
Paroki Santa Maria
Regina
Sumber : Dokumentasi
Pribadi (2017)
Paroki Santa Maria Regina ini disebut juga sebagai
pelayanan non formal berbasis kurikulum yang berisi pelajaran agama Katolik.
Kegiatan pembelajaran yang di lakukan setelah kegiatan kebaktian umat kristiani
yaitu misa, pukul 11.00 - 13.00 setiap hari minggu. Paroki Santa Maria Regina
berada dibawah pengawasan Kementrian Agama di wilayah Banten. Kegiatan
pembelajaran di paroki pada tahun 2011, 1 tahun setelah Gereja Santa Maria
Regina di bangun.
Anastasia Dwi Respati S adalah salah satu pengajar dan
Koordinator Sub Sie Persink di Paroki Santa Maria Regina. Dwi lahir di Jakarta,
30 September 1964. Ia mengajar di pelayanan non formal berbasis kurikulum ini
sejak berdirinya Paroki Santa Maria Regina tahun 2011 lalu. Dwi merupakan Guru
honorer di SMA Negeri 86 selama 28 tahun. Namun ia memiliki akta 4 Spesialisasi
Agama sehingga Dwi mengajar tentang pembelajaran agama Katolik di SMA N 86
dengan jumlah peserta didik 2-3 orang.
Gambar 2
Pengajar Paroki Santa Maria Regina
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)
Ketertarikan Dwi mengajar di Paroki Santa Maria Regina
berawal dari keprihatinan akan anak – anak yang kurang pembelajaran agama
Katolik di sekolahnya baik sekolah negeri maupun swasta. Peserta didiknya
beragam mulai dari SD hingga SMA dengan jumlah yang sangat sedikit.
Tinjauan
Teoritik
Kurikulum merupakan sebuah rencana umum tentang
isi atau materi tertentu dari instruksi bahwa sekolah harus memenuhi
kualifikasi atau sertifikasi serta dapat melanjutkan bidang profesional
kejuruan.[3] Kurikulum dalam pendidikan mempunyai peranan dalam menyiapkan sumber
daya manusia yang mampu befikir secara kritis. Untuk mengembangkan kemampuan
berfikir yang kritis dibutuhkan model pembelajaran yang partisipatif.
Pemikirian perspektif struktural fungsional mempunyai tujuan bahwa pendidikan
dan kurikulum adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat
untuk dijadikan tempat pembelajaran[4]. Menurut Durkheim
pendidikan sebagai pemegang peran dalam proses sosialisasi atau homogenisasi,
seleksi atau heterogenisasi, dan alokasi serta distribusi peran-peran sosial,
yang berakibat jauh pada struktur sosial yaitu distribusi peran-peran dalam
masyarakat.
Setiap
kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar system
formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas,
yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam
mencapai tujuan-tujuan belajar formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh
lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu
pada standar nasional pendidikan.[5] Adapun Sekolah non formal merupakan Jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil
pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan
formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk
oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan.
Menurut UU Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007
tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Dalam PP tersebut pasal (1)
menjelaskan bahwa pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut
penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama
dan mengamalkan ajaran agamanya.[6]
Kurikulum Dalam Agama
Katolik
Kurikulum
sekolah adalah muatan proses, baik formal maupun informal yang diperuntukkan bagi pelajar untuk memperoleh
pengetahuan dan pemahaman, mengembangkan keahlian dan mengubah apresiasi sikap
dan nilai dengan bantuan sekolah. Sedangkan Maurice Dulton mengatakan
“Kurikulum dipahami sebagai pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh
pembelajar di bawah naungan sekolah”.[7]
Proses
pembelajaran di gereja
santa maria regina ini merupakan suatu pelayanan untuk anak-anak yang
membutuhkan nilai agama Katolik
yang tidak diajarkan disekolah. Dan di gereja santa maria regina ini merupakan
pelayanan non formal berbasis kurikulum. Pelajaran agama Katolik yang dinaungi oleh Kementerian Agama.
Bimbingan belajar bagi anak-anak
sekolah negeri
maupun swasta yang tidak mendapatkan
nilai yang terdapat disekolah.
“Pelayanan
di gereja santa maria regina ini berbasis kurikulum di gereja ini memiliki format nilai, soal,
silabus, buku absen dan buku pelajaran seperti sekolah. Kurikulumnya dibuat
oleh kementerian
agama, yaitu persatuan gereja di jakarta dinamakan konfensi wali gereja
indonesia. Dan materi pembelajarannya sudah tersusun rapi.”[8]
Tabel I.
Perbandingan Materi Pembelajaran
|
Kelas
|
Alokasi
Waktu
|
Materi
|
|
10
|
11.00-12.30
3 @ 45menit
|
1. Manusia,Pribadi yang
Unik
2. Mengembangkan karunia
Allah
3. Kesetaraan laki-laki dan perempuan
4. Keluhuran Manusia sebagaiCitra Allah
5. Suara Hati
6. Bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh Media Massa
7. Bersikap Kritis
Terhadap Ideologi dan Gaya Hidup yang Berkembang Dewasa ini
8. Kitab Suci Perjanjian
Lama
9. Kitab Suci Perjanjian
Baru
10. Tradisi
11. Gambaran Kerajaan
Allah pada zaman Yesus
12. Yesus Mewartakan Kerajaan Allah
13. Sengsara dan Wafat
Yesus
14. Yesus Kristus sebagai sahabat sejati,tokoh idola
15. Yesus Putra Allah dan
Juru Selamat
16. Tri Tunggal Maha
Kudus
17. Peran Roh Kudus bagi
Gereja
|
|
11
|
11.00-12.30
3 @ 45menit
|
1.
Gereja sebagai Umat Allah
2.
Gereja sebagai Persekutuan Yang Terbuka
3.
Gereja yang Satu
4.
Gereja yang Kudus
5.
Gereja yang Katolik
6.
Gereja yang Apostolk
7.
Hierarki dalam Gereja Katolik
8.
Kaum Awam dalam Gereja Katolik
9.
Gereja yang
Mengkuduskan
10.
Gereja yang Mewartakan
11.
Gereja yang Bersaksi
12.
Gereja yang membangun
persekutuan
13.
Gereja yang melayani
14.
Permasalahan yang
Dihadapi Dunia
15.
Hubungan Gereja dengan
Dunia
16.
Ajaran Sosial Gereja
17.
Hak Asasi Manusia
18.
Hak Asasi Manusia dalam
Terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja
19.
BudayaKekerasan versus Budaya Kasih
20.
Aborsi
|
|
12
|
11.00-12.30
3 @ 45menit
|
1.
Panggilan Hidup
Berkeluarga
2.
Perkawinan dalam
tradisi Gereja Katolik
3.
Tantangan dan peluang untuk membangun keluarga yang dicita-citakan
4.
Panggilan hidup membiara
5.
Panggilan karya atau profesi
6.
Nilai-nilai penting
dalam masyarakat yang diperjuangkan
7.
Landasan untuk
memperjuangkan nilai penting dalam masyarakat
8.
Yesus Kristus pejuang
Keadilan, Kebenaran , Kejujuran dan Kedamaian
9.
Keberagaman sebagai
realitas asal kehidupan manusia
10.
Mengupayakan perdamaian
dan persatuan bangsa
11.
Memahami kekhasan
agama-agama di Indonesia
12.
Dialog antar umat
beragama dan kepercayaan lain
13.
Membangun persaudaraan
sejati dengan menjalin kerja sama antar umat beragama
14.
Membangun bangsa dan
negara yang dikehendaki tuhan
15.
Tantangan dan peluang umat Katolik dalam
membangun Bangsa dan Negara seperti yang dikehendaki Tuhan
16.
Dasar Keterpanggilan Gereja dalam membangun Bangsa dan Negara
|
Sumber: Silabus Paroki Santa Maria Regina
(2017)
Gambar 3
Buku Pelajaran Agama Katolik
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2017)
Buku pelajaran yang digunakan oleh pelayanan
di gereja santa maria regina ini sama seperti buku yang digunakan oleh sekolah
formal lainnya. Karena mereka menggunakan kurikulum seperti yang dilakukan oleh
sekolah. Hanya saja bedanya di paroki ini jam belajarnya hanya hari minggu. Gereja ini siap melayani siapa saja yang ingin
lebih dalam mempelajari agama Katolik
lebih dalam dan juga siap memberikan nilai kepada sekolah yang memintanya,
tetapi pemberian penilaiannya tidak secara cuma-cuma tetapi para siswanya harus
datang ke gereja setiap minggunya untuk belajar.
Permasalahan Pada Pelayanan Agama Berbasis Kurikulum
Kegiatan yang ada pada paroki santa maria
regina bukan hanya yang berkaitan dengan agama saja, namun juga kesehatan
berupa klinik umum bagi masyarakat dan juga pendidikan. Pendidikan yang
berlangsung di paroki santa maria regina adalah pelayanan pendidikan agama berbasis kurikulum bagi umat
Katolik yang di sekolah tempat mereka belajar
tidak ada pelajaran Katolik.
Sekolah pun jika memang diperlukan dapat meminta nilai untuk pelajaran
agama Katolik untuk para muridnya, namun bagi murid yang ingin mendapatkan
nilai tidak dapat diberi secara cuma-cuma, melainkan dengan cara datang dan belajar ke pelayanan dengan rutin. Dwi mengatakan bahwa walaupun ini merupakan
pendidikan non formal, tetapi tetap berbasis kurikulum. Pelayanan ini pun masih
bernaung pada Kementerian
Agama dan BINMAS Serang.
“Pelayanan disini untuk para anak-anak yang di
sekolahnya tidak ada pelajaran Katolik, karena banyak sekolah yang tidak ada
guru dan mata pelajaran Katolik, biasanya hanya ada kristen saja. jadi banyak
murid yang ingin belajar tentang agama Katolik datang kesini, jika sekolah
ingin meminta nilai pun bisa juga, namun murid harus rajin datang kesini.
Walaupun ini tergolong pendidikan non formal, tapi tetap berbasis kurikulum.”[9]
Layanan pendidikan agama berbasis kurikulum
ini dibuka pada tahun 2011, setahun setelah dibangunnya paroki santa maria
regina itu sendiri. Dibukanya layanan ini berawal dari rasa prihatin akan
anak-anak yang tidak mendapat pelajaran sekolah Katolik, baik di sekolah negeri maupun swasta. Dan juga agar para anak-anak
umat Katolik dapat mengenal dan mempelajari agamanya sendiri.
“layanan pendidikan agama berbasis kurikulum
ini dibuka pada tahun 2011, paroki ini dibangun pada tahun 2010, jadi setahun
setelah paroki ini dibangun. Awal dari ingin dibukanya layanan ini adalah rasa
prihatin akan anak-anak yang tidak mendapat pelajaran sekolah Katolik, baik di
sekolah negeri maupun swasta. Lalu agar anak-anak dapat
mengenal agamanya sendiri.”[10]
Gambar 4
Metode
Pembelajaran Pada Pelayanan Pendidikan Agama
Sumber: Dokumentasi pribadi (2017)
Metode pembelajaran yang digunakan pada
pelayanan pendidikan agama disini adalah metode ceramah. Metode ceramah adalah
penerangan dan penututan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dengan kata
lain dapat pula dimaksudkan, bahwa metode ceramah atau lecturing itu adalah suatu cara penyajian atau penyampaian
informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap
siswanya.[11]
Dalam berjalannya kegiatan layanan pendidikan
agama ini juga menemukan beberapa
masalah, seperti kurangnya guru yang mengajar disini. Kegiatan pelayanan
pendidikan agama disini ada untuk berbagai kelas, mulai dari Sekolah Dasar
hingga Sekolah Menengah Atas. Tiap 1
guru mengajar 1 kelas, dan cara pembelajarannya pun dengan cara duduk melingkar
antara murid dan guru lalu memberikan materi. Jadi, harusnya guru yang mengajar
disini berjumlah 12 yatu sesuai dengan jumlah kelas dari SD hingga SMA, namun
di layanan pendidikan agama disini hanya memiliki 10 pengajar, sehingga kurang 2 pengajar.
“Disini menerima murid dari berbagai kelas,
mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Tapi kami hanya ada
10 pengajar saja, 2 pengajar tidak ada.”[12]
Masih tentang tenaga pengajar, ternyata para
pengajar disini pun banyak yang tidak berlatar belakang lulusan pendidik. Jadi,
terkadang kesulitan dalam hal penyesuaian dengan para pengajar yang memiliki
latar belakang pendidik, karena yang berlatar pendidik lebih rapi dalam
menyusun materi dan lain-lain. Para guru pun sedikit yang tertarik dengan
pekerjaan sukarela seperti ini.
Para murid sekolah yang beragama Katolik pun
masih jarang yang berminat untuk ikut layanan pendidikan agama berbasis kurikulum
disini karena menurut Dwi, hari minggu merupakan hari yang biasanya
digunakan untuk senang-senang sehingga hanya sedikit murid yang rela
mengorbankan hari minggunya demi mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
Menurut Dalyono, salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah
faktor internal yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. [13]
dalam kasus diatas, faktor yang mempengaruhi siswa adalah faktor internal yang
berupa kurangnya minat dan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar di
pelayanan pendidikan agama tersebut yang berlangsung pada hari minggu. Hal diatas mengakibatkan sedikitnya anak yang
mengikuti layanan pendidikan agama di paroki santa maria regina.
Total murid yang mengikuti layanan pendidikan
disini dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas hanya sekitar 30 murid, tiap tahun murid baru
yang masuk hanya sekitar 25 atau 30 orang saja. sedangkan targetnya adalah 300
orang. Agar dapat mencapai target tersebut, para
pengurus paroki melakukan berbagai usaha agar target tersebut dapat tercapai.
Seperti menyebarkan selembaran tentang pelayanan pendidikan agama tersebut dari
gereja ke gereja, lalu kegiatan pelayanan dilakukan sehabis Misa agar dapat
dibarengi dengan ibadah wajib.
Penutup
Dengan adanya paroki santa maria regina ini mengenai
pelayanan agama berbasis kurikulum dapat membantu murid yang kurang akan
pelajaran agama Katolik di sekolah negeri maupun swasta dapat menambah wawasan
dalam pembelajaran di paroki santa maria regina, selain itu proses hasil
belajar murid dapat diberikan kepada pihak sekolah untuk membantu nilai tugas
mengenai agama Katolik di sekolahnya. Kegiatan pelayanan pendidikan agama
disini pun tersusun dengan rapi karena berbasis kurikulum. Dalam hal
pembelajaran pun layaknya sekolah, karena memiliki format nilai dan soal,
silabus, buku absen dan buku pelajaran. Kurikulumnya pun dibuat langsung oleh
kementrian agama. Namun, dalam berjalannya kegiatan disini tak lepas dari
berbagai permasalahan. Seperti jumlah pengajar yang kurang memadai dan rendahnya
minat anak-anak sekolah untuk mengikuti pelayanan pendidikan agama disini
karena diadakan pada hari minggu yang biasanya pada hari itu digunakan untuk
santai di rumah. Walaupun begitu, pelayanan pendidikan agama di Paroki Santa
Maria Regina tetap berlangsung dengan sumber daya yang tersedia dan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Skema 1
Relasi kurikulum pada pelayanan agama Katolik
Sumber: Hasil Lapangan (2017)
DAFTAR
PUSTAKA
Dalyono. Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta, 2007.
Hidayat, Rakhmat. Pengantar Sosiologi Kurikulum.
Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Latief, Ruslan. Cara belajar siswa aktif. Padang:
Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, 1985.
Mudlofir, Ali. Aplikasi pengembangan kurikulum tingkat satuan
pendidikan dan bahan ajar dalam pendidikan agama islam. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2012.
Soelaman, Joersoef. Konsep dasar pendidikan non formal.
Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Sunarto. Ice Breaker dalam pembelajaran aktif.
Jakarta: Cakrawala Media, 1993.
Kelembagaan.ristekdikti.go.id
diakses pada tanggal 17 april 2017. Pukul 20.00 WIB
[2] kelembagaan.ristekdikti.go.id
[6] kelembagaan.ristekdikti.go.id
Dalam
Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.hlm
1-2.
[8] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal
30 April 2017 pukul 11.01
[9] Hasil
wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.05
[10] Hasil
wawancara dengan Dwi, tanggal 30 April 2017 pukul 11.18
[12] Hasil wawancara dengan Dwi, tanggal
30 April 2017 pukul 11.23
[13] Dalyono.
2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta. Hlm. 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar